Pemilu Presiden akan segera dimulai dalam waktu kurang sebulan lagi. Deklarasi kampanye damai sudah diikrarkan. Semua pihak berikrar untuk menjaga kampanye pemilihan Presiden. Sudah mulai kemarin para capres dan cawapres melaksanakan kampanye terbukanya. Walau sebelumnya mereka sudah melakukan kampanye tersembunyi-sembunyi.
Dalam kampanye biasa kalau bukan jargon-jargon ”rakyat” paling-paling Cuma goyangan dangdut. Yang terakhir inilah yang paling ditunggu-tunggu oleh ”kebanyakan rakyat”. Capres dan tim suksesnya mencoba membuat kecap nomor satu yang dapat membumbui kampanye dan menarik minat pemilih untuk menyontreng.
Semua mengklaim demi nama rakyat bukan demi penguasa. Mereka akan bekerja demi kemakmuran rakyat meski negeri ini sudah lebih 60 tahun merdeka tetap saja banyak penduduknya yang masih ”tidak merdeka”. Lapangan kerja masih susah sehingga orang masih suka bekerja di luar walaupun dengan risiko disiksa oleh majikan.
Ada capres yang mengusung isu ekonomi kerakyatan yang akan memberikan puluhan juta pekerjaan baru. Ini memang isu kampanye yang sangat menarik perhatian dibandingkan incumbent yang hanya memiliki jargon ”lanjutkan”. Tentu saja ada pihak yang menuduh bahwa capres tersebut dituduh meniupkan angin surga. Tentu ada juga capres yang menjual akan lebih cepat dan lebih baik.
Yah intinya semua capres mengklaim dirinya yang paling baik. Kalau mereka diberi kesempatan akan melakukan apa yang terbaik bagi ”rakyat”. Semua merasa dirinya pantas untuk merima amanat rakyat sehingga mereka berusaha sekeras mungkin untuk mendapat jabatan itu. Padahal jabatan pemimpin adalah jabatan yang sangat riskan dan pertanggung jawaban di akhirat akan besar sekali.
Ini justru berbanding terbalik dengan kepemimpinan Abu Bakar Ash Shidiq. Ketika dilantik (dibai’at) oleh para shahabat Abu Bakar berkata ”
” Hai Kaum Muslimin, saya telah diangkat sebagai pemimpin kalian, tetapi itu tidak berarti bahwa sayalah yang terbaik diantara kalian. Maka Jika saya benar, bantulah, dan jika saya salah, betulkanlah!
Ingatlah orang yang lemah di antara kalian menjadi kuat di sisiku, hingga saya serahkan haknya kepadanya!
Dan ingatlah, orang yang kuat di antara kalian menjadi lemah di sisiku, hingga saya ambil yang bukan haknya daripadanya.
Taatilah saya selama saya mentaati Allah dan Rasul-NYA! Dan Jika saya tidak taat, maka tak ada keharusan bagi kalian untuk mentaatiku!”
(Khalid : 2002, p. 94)
Pustaka:
Khalid, M.K. 2002. Khalifa Rasulullah. CV Diponegoro Bandung.