Dulu saya adalah seorang anak bimbing dari seorang dosen yang juga wirausaha. Ketika saya mengugkapkan kenginan saya bekerja di Bank Indonesia. Beliau langsung merendahkan orang BI karena ada temannya yang tertangkap korupsi. Yah sebagai pengusaha tentu beliau sangat senang jika mahasiswanya apalagi anak bimbingnya jadi pengusaja.
Setelah tujuh tahun berlalu, saya sadar perkataan dosesn saya benar adanya. Di tengah lapangan kerja sempit ini, wirausahalah yang cocok. Kita tidak perlu meniru orang yang telah menunggu lebih lima tahun untuk cari pekrejaan. Cape deh. Apa yang bisa kita mulai. Berencana boleh namun jangan terlalu banyak. Sekarang yang bisa kita lakukan kerja dan kerja. Yang bisa nulis cepat menulis. Yang bisa berdagang, cobalah dagang kecil-kecilan, Yang bisa ngajar, cobalah ngajar. Sehingga waktu tidak terbuang.
Bekerja pada instansi atau orang hanya satu pintu dari 10 pintu rezeki yang ada. Jika anda masuk anda belum tentu jadi pimpinan. Sampai penisunpun anda belum tentu jadi pimpinan. Cape deh. Trus, ada yang udah kerja puluhan tahun RSSSpun belum dapat. Cape deh.
Namun saya orangnya netral. Saya tahu betul manusia memang punya karakteristik yang berbeda. Bagi mereka yang memang sudah punya pekerjaan. Mereka harus giat bekerja dan professional. Mereka harus bersyukur menerima pekerjaan yang sudah ada dibandingkan orang lain yang tidak bekerja. Bagi yang belum bekerja, usaha atau bisnis adalah alternative terbaik untuk anda saat ini. Moga-moga anda sukses. Amin.
